Posted by : ayunichan September 24, 2012


Film “Kita Versus Korupsi” berisi empat buah cerita yang berbeda, namun semuanya memiliki pesan moral yang sangat baik. Isi film terinspirasi pada hal kecil yang berada di sekitar kita yang jarang kita sadari. Filmnya dikemas apik dan modern tapi tidak melupakan pesan moral yang ingin dicapai. 

Selain menguak sisi gelap yang ada di sekitar kita, film ini juga memberi banyak pesan moral kepada penontonnya. Membuat kita menyadari bahwa banyak tindakan 'Korupsi' di sekitar kita. Bahkan mungkin ada juga pada diri kita sendiri. Semoga setelah menonton film ini masyarakat bisa sadar dan mulai berbenah diri dan menghilangkan sifat korupsi yang ada di dunia ini.



Cerita pertama adalah “Rumah Perkara”, yang di sutradarai oleh Emil Heradi. Yang menceritakan tentang Pak Yatna, seorang Lurah di sebuah desa kecil. Yang pada kampanye pemilihan lurah banyak berjanji, namun setelah terpilih menjadi lurah dia malah tergiur untuk bekerja sama dengan Pak Jaya, seorang kontraktor yang mana ingin membangun Real Estate, ruko, kafe, dan lapangan golf di desa tersebut yang membuat warga desa harus pindah dari desa tersebut.
Pasti pesan yang ingin disampaikan adalah kita sebagai manusia harus teguh pada janji yang sudah kita buat. Tak peduli banyaknya godaan yang datang, namun janji yang sudah terucap harus sebisa mungkin kita tepati. Dan jadilah sosok pemimpin yang adil, dan bijaksana. Jika dalam suatu kampanye, tak usah lah terlalu banyak berjanji, karena kita tidak tahu apa yang bisa kita lakukan saat telah terpilih, berjanji lah untuk terus jujur dan tidak mengiming-imingi banyak janji, juga tidak perlu menghamburkan banyak uang dalam suatu kampanye, karena itu akan mendorong hasrat lebih untuk melakukan tindak korupsi saat sudah terpilih.

Cerita kedua yaitu “Aku Padamu” yang digarap sutradara Lasja F. Susatyo. Menceritakan tentang Vano dan Laras, dua orang yang saling mencintai yang ingin menikah diam – diam tanpa memberi tahu keluarga mereka. Saat mereka tiba di KUA, mereka diharuskan membawa Kartu Keluarga, namun Laras tidak membawa KK yang disimpan ayahnya. Vano tergoda untuk menggunakan jasa calo, yang bisa mempermudah urusan pernikahan mereka. Namun Laras menolaknya.
Pesan yang bisa diambil dari cerita kedua adalah suatu pekerjaan, sebisa mungkin kita kerjakan sendiri. Jangan tergiur jalan pintas yang licik dan kotor. Juga ada cerita tentang guru Laras yang tidak mau memberi uang “suap” agar dirinya bisa diangkat menjadi pegawai tetap. Semua yang kita lakukan dengan usaha kita sendiri, hasilnya akan lebih memuaskan. Dan ingat, niatkan semua perbuatanmu dengan niat yang baik. Agar kita tidak mudah tergoda dengan cara yang jahat dan kotor.

Cerita ketiga yaitu “Selamat Siang, Risa!” disutradarai oleh Ine Febriyanti menceritakan tentang seorang karyawati yang sedang menghadapi godaan tawaran uang “suap”. Namun ia bisa bertahan karena cerita flashback tentang ayahnya yang berusaha jujur walaupun orang lain di sekitarnya banyak yang melakukan korupsi. Ayahnya bahkan bersikeras tidak melakukan korupsi saat keluarganya dilanda kesulitan ekonomi.
Banyak memang di dunia ini orang yang melakukan korupsi. Namun jangan pernah berfikir karena orang lain melakukannya, kita juga harus ikut terseret ajaran yang tidak baik itu. Karena tanggung jawab itu dibebankan pada diri masing – masing. Jadi berusahalah untuk bertanggung jawab dengan baik dan tidak tergoda dengan tindakan yang tidak baik.

Cerita terakhir yaitu “Psssttt.. Jangan Bilang Siapa-Siapa” disutradarai oleh Chairun Nissa yang menceritakan tentang siswi SMA, Echi menjadi koordinator buku yang dijual guru di sekolahnnya. Namun harga buku tersebut lebih mahal dari yang dijual di toko. Ternyata harga buku dinaikkan guru tersebut. Parahnya, aksi korupsi ini terus naik hingga membawa Kepala Sekolah yang juga mendapat hasil dari menaikkan harga buku tersebut. Tapi, ada siswi bernama Gita yang tidak membeli akan mendapat nilai yang lebih jelek. Siswa ini yang menjadi figur yang patut di contoh. Dia mampu menabung hingga dapat membeli barang yang diinginkannya tanpa modus dan bersih dari korupsi.
Cerita yang terakhir ini adalah cerita yang ‘umum’ sudah terjadi di masyarakat Indonesia sejak dulu, entah siapa yang memulainya. Ya, korupsi itu bisa dibilang penyakit mengakar yang akan terus menyeret orang lain disekitarnya. Korupsi memang menjadi batu loncatan untuk mendapat keuntungan lebih banyak, namun sadar atau tidak korupsi lebih banyak merugikan orang lain.

Jika membiasakan diri kita melakukan tindak korupsi dari hal kecil tak menutup kemungkinan akan merambat ke hal yang lebih besar lagi. Maka pesan dari film ini adalah dari hal kecil pun alangkah baiknya kita jujur dan tidak membohongi orang lain, agar kita terbiasa hidup dalam kejujuran yang akan membawa kita pada suatu perdamaian dunia.

Lomba blog Kita VS Korupsi

Leave a Reply

HATI-HATI COPY PASTE
Diharapkan jika melakukan copy paste atau pengutipan untuk menyertakan link ke halaman artikel di blog ini.
Tinggalkanlah komentar atau pertanyaan jika anda merasa postingan ini baik.
Terimakasih.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Belajar Bahasa Bersama? AAYok!! - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by Annisa Ayu Yunita -