Posted by : ayunichan September 23, 2010


1000 Kisah Tentang Ibu, Seribu Cinta dari Mamah



“Saat pacar meminta tolong, kamu akan cepat cepat menolongnya. Saat ibumu meminta tolong, keluhan yang kau berikan. Saat pacarmu meninggalkanmu, ibumu yang menghiburmu” gitu yah? Pikirkan lagi ya teman.


Pernah terpikirkan kah olehmu bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu? mengandungmu selama 9bulan! selama itu, makan ga enak, tidur susah, pergi-pergi susah, bawaan mual mulu. melahirkanmu! gak semudah mengetikkannya loh, perjuangan yang sangat keras, mengorbankan hidup demi sebuah nyawa, hidup kita! membesarkan kita! saat kamu bayi, apa bisa makan sendiri? mandi sendiri? semua itu akan dilakukan ibu dengan senangnya. melihat kita tumbuh besar, dewasa. untukku, ibuku juga yang harus bekerja keras menghidupi anak-anaknya dengan biaya hidup yang besar. dan pernahkah kamu berpikir "Apa yang telah kamu berikan untuk ibumu?" Apa kamu membantunya? apa kamu menghiburnya dikala ibumu lelah?  



22 September 1965, 45 tahun yang lalu..lahirlah malaikatku yang kusebut, mamah..


Mamah adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Hidup keluarga mamah tergolong pas-pasan, walalupun penghasilan kakekku tergolong lumayan, namun untuk menghidupi tujuh orang anak dan tujuh adik eyang bukan hal yang sepele. Ohya, karena mamah anak seorang TNI maka hidupnya tak pernah menetap. Saat kelas 2 SD, mamah dan keluarganya pindah ke Brebes. Disana mamah bersekolah di SD N 6 Brebes, SMP N 1 Brebes, dan SMA N 1 Brebes yang entah dulu namanya apa. Sekolah rakyat ya? Mungkin.
Mamah melanjutkan pendidikannya di Akademi Keperawatan Muhammadiyah Semarang. Bermodalkan nekat, mamah bisa menjadi perawat di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru dari 20tahun yang lalu, hingga sekarang. Setelah beberapa tahun bekerja, mamah dikenalkan oleh papahku. Cukup sebentar pendekatan mereka langsung menikah. Papah adalah seorang sarjana ekonomi lulusan sebuah PTS di luar Jawa yang saat itu bekerja disalah satu Bank Swasta di kota Kudus. Namun mamah memutuskan meniti karirnya menjadi seorang perawat di Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru di Tegal. Hmm, egois memang, aku tak pernah tau apa yang ada dibenak mereka, mungkin papah sangat menyukai pekerjaannya, dan mamah masih ingin bertanggung jawab membiayai kuliah kedua adiknya pada saat itu. Papah hanya pulang sekali setiap bulan. Setelah setahun menikah, mereka tak kunjung dikaruniai seorang anak. Dokter memvonis mamah tidak bisa hamil karena ada kista dirahim mamah. Akhirnya mamah memutuskan untuk menjalani operasi untuk mengangkat kista yang ada dirahimnya.

  Dua tahun kemudian, lahirlah aku Annisa Ayu Yunita sebagai anak pertama mereka. Aku sangat sayang mamah. Mungkin karena dari lahir mamah yang selalu ada disampingku. Mamah sangat baik, saat aku masih bayi, ia mempekerjakan seorang pembantu. Pembantu itu adalah pembantu tetangganya yang katanya sering disiksa. Sampai sekarang pembantu itu masih setia sama aku dan mamah loh, walaupun sudah beranak satu.
Dulu, setelah menikah, mamah dan papah (kalau pulang) masih tinggal bersama eyang dan adik-adik mamah yang lain. Setelah aku berumur 1tahun mamah mengontrak rumah kecil di daerah Arum Indah, Kota Tegal.
Saat aku masih kecil, kata mamah dulu setiap mamah berangkat kerja aku harus ‘diamankan’ , harus dibawa pergi atau ditidurkan dulu. Kalau tidak, bisa nangis sampai tidak bisa berhenti-berhenti. Atau saat mamah kerja aku tidak dibiarkan berkeliaran dijalan, karena jika aku sampai melihat seorang ibu yang berjalan/ naik becak/ naik motor menjauh dan menggunakan baju yang mirip mamah ya akan nangis juga karena aku selalu mengira itu mamah, lucu yah hehe.
Setelah aku berumur 3tahun, mamah pindah. Membeli rumah dimejasem dengan hasil kerjanya. Mamah adalah tipe orang pekerja keras. Kata mamah, rumahku dulu kecil, sempit, kotor, malah kata papah seperti kandang ayam. Tapi berkat kerja keras mamah, bagiku rumah itu sudah terbilang sangat layak. Ah, aku ingin sepeti mamah yang tak pernah ada kata ‘putus asa’ dikamusnya.
       Setelah aku berumur 4tahun mamah melahirkan seorang, eh dua orang anak kembar. Hehe. Ya, adik-adikku Shinta Ayuni Nugrahandini dan Shanti Ayuni Permatasari. Padahal saat itu sedang krismon (Krisis Moneter) yang mana semua harga barang naik, sampai mamah harus bekerja ekstra membantu dr. Eko membuka praktek sepesialis Paru-Paru sampai sekarang.
      Tidak hanya itu, saat adik-adikku baru berusia 3tahun papah terkena PHK karena Bank tempatnya bekerja bangkrut, jadilah papah pengangguran dengan pesangon seadanya. Dan lagi, papah terkena struk ringan pada kaki dan tangannya yang membuat papah sulit menggerakkan kaki dan tangannya. Pesangon papah habis untuk berobat, mau tak mau mamah harus lebih ekstra bekerja keras. Ah, aku tak tau betapa capeknya menjadi mamah. Pagi kerja setelah mengantar adikku sekolah, karena aku tak mau memberatkan mamah aku memilih untuk naik sepeda. Belum banyak beristirahat sepulang kantor mamah sudah harus berangkat kerja lagi.
         Mamah pun manusia yang mempunyai batas maksimal kekuatan. Mamah harus mengalami dua kali operasi dalam satu tahun akibat kecapaian. Ah, sejak saat itu aku benar-benar tak mau menyulitkannya. Aku berusaha semaksimal mungkin meringankan pekerjaannya, menghiburnya dikala sedang capek.

     


          Setelah aku lulus SMA, sebenarnya aku ingin tetap bersama mamah, mengabdi untuk membantunya, setidaknya kuliah di Tegal. Tapi justru mamah yang menentangku. Dia tak ingin aku hanya tau Tegal, mamah ingin aku pergi untuk mencari pengalaman, mengetahui rasanya hidup mandiri. Sungguh suatu perintah yang berat. Tapi untuk mamah, kuiyakan keinginannya. Mamah menyuruhku mengambil jurusan yang aku senangi, tapi mamah hanya mengijinkan aku memilih PTN di Semarang dengan alasan dekat dan transportasinya mudah.Aku dan mamah punya banyak kesamaan yang membuat kita sangat kompak dan sering jalan bersama. kita suka main game, makan es krim, sampai karauke bersama. semua kulakukan untuk membuat mamah senang.
Apapun untuk mamah, sekarang aku menulis tulisan ini tanpa mamah disampingku. Sungguh terasa. Dirumah ada yang memperhatikanku, membantuku, sekarang hanya ada aku dan handphone untuk telpon mamah.
 



Teman, sayangilah ibumu. Jika beliau memintamu membantunya, bantulah. Jika beliau memerintahkan sesuatu, pasti ada alasannya, lakukanlah. Jangan sedikitpun kamu meminta balasan untuk apa yang kamu lakukan. Bayangkan pengorbanannya. Beliau mengandungmu, melahirkanmu, menjagamu, membesarkanmu, melindungimu, menyekolahkanmu, mengajarimu ini itu, dan suatu saat nanti beliau dengan ikhlas menyerahkanmu ke pelukan istri/suamimu. Ibumu takkan pernah meminta ganti rugi atas semua yang beliau lakukan untukmu. Sungguh. Apa kau tak pernah merasa kelelahan yang dirasakannya? Selagi sempat peluklah ibumu, katakanlah kau mencintainya, kau menyayanginya sebelum semua itu terlambat dan membuat penyesalan dihatimu kawan. Buatlah beliau bangga dengan menyerukan “Dia anakku” sambil tersenyum lebar.

Hadist ke 593 dari kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany.  “Bersungguh sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu ditelapak kaki ibu”




Tulisan ini kubuat 20 September 8.15 PM dikamar kos, bertemankan air mata rindu untuk mamah. Tapi sengaja aku publish pada 22 September 2010, karena hari ini mamahku yang paling aku cintai berulang tahun yang ke 45. Mamah, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur, dan aku selalu bisa membanggakanmu serta membuatmu bahagia. Takkan ada yang dapat menggantikan rasa sayangmu untukku karena mamah, mamahku. Maaf mah, aku belum bisa memberikan apa- apa untuk mamah. Tapi disini aku berjanji, menuntut ilmu untuk membanggakanmu, takkan melupakan semua nasihatmu mah. Aku  takkan pernah malu untuk bermesraan dengan mamah, takkan malu didepan umum memeluk mamah, takkan sungkan bilang Ayu sayang mamah J takkan segan untuk menyambutnya ketika mamah pulang kerja, takkan pernah ragu untuk selalu membanggakan dan katakan pada dunia “She is my hero, Beliau mamahku” serta kan kubuat ia membanggakanku dengan mengatakan kepada dunia "Dia anakku"

{ 5 komentar... read them below or Comment }

  1. mrinding sung aq mbaca kie. . hahaha. . keren yun. .lakukan yg terbaik to your mother. . good luck

    ReplyDelete
  2. tumben kyeh nulise kayong ngenes nang ati :xixi:

    ReplyDelete
  3. Suwun ya go okky karo auzhee.. Kan kado ulangtaun.. Kudu sing apik oh..

    ReplyDelete
  4. mudah-mudahan di berikan yang terbaik buat ananda ayuni sekeluarga di kemudian hari. amin ya robbal a'alamin..

    ReplyDelete

HATI-HATI COPY PASTE
Diharapkan jika melakukan copy paste atau pengutipan untuk menyertakan link ke halaman artikel di blog ini.
Tinggalkanlah komentar atau pertanyaan jika anda merasa postingan ini baik.
Terimakasih.

- Copyright © Belajar Bahasa Bersama? AAYok!! - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by Annisa Ayu Yunita -